Thursday, May 15, 2014

Madu LIAN

Selasa kemarin (18/2... 18 Februari 2014) ada sedikit bumbu avonturir dadakan. Ajakan meliput panen madu di zona lebih "mudah". Jadi gak perlu nyusup jauh di perut Rimba. Menariknya lagi, lokasi berada di situs pepohonan tua, yang sudah dijadikan zona konservasi khusus oleh pemda Lotim. Lian, inisial dusun yang diadopsi dari nama sejumlah tegakan pohon besar, masih dalam cakup wilayah Labuan Kayangan. Pinggir jalan utama, straat besar.
Paska meringkas 'operasi-pasar', hampir siang, kami ngebut anjangsana lokasi. Makan waktu tempuh 2 jam dari kota Mataram menembus arah timur. Masih sempat singgah di Sikur demi ganjal perut. Terlebih, ada 1 warung kecil yang telah menjadi favorit lidah kami. Raon (rawon khas Lombok) yang menyajikan racik bumbu multi aromatik. Ragi Beleq dalam istilah lokal sasak. Adalah olahan rempah temperatur 'hangat/panas'. Lebih dominan unsur 'Yang' pada terapan siklus bilik-belah Taoism.
Singkat kebut..., tiba kami disana. Singgah di gubuk resmi amaq Lan. Mitra-jawat yang kerap ikut dalam ekspedisi perburuan madu sebelumnya. Rumahnya tepat berada di pinggiran kompleks "Lian-Garden" resident. Alias lain yang saya pikir lebih pas untuk penyebutan nama resmi Dasan-Baru. Spot pemekaran desa dan pembukaan lahan baru di program transmigrasi lokal. Notabene dulu-nya, zona-zona sekitar ini juga pernah resmi dilabeli spot transAD. Lokasi program transmigrasi bagi keluarga prajurit ABRI-AD. Begitu lembar catatan sejarah yang terhimpun.
Membahas Lian selalu undang hasrat tertentu bagi saya pribadi. Pada cacah lansekap datar, tegakan tajuk pepohonan Lian sudah beda dengan kumpulan vegetasi lain-nya. Ditunjang oleh lingkar diameter batang besar. Julang tinggi... tapi canopi gak gitu lebat. Sebab daun kecil-nya gak menjanjikan total teduh tajuk. Terlebih amati buah-nya. Gak singkron dengan rupa fisik batang raksasa. Buah Lian kecil seukuran gundu. Persis buah pohon beringin. Fisik giant-tree ini ditunjang oleh rupa akar papan, melebar... persis wujud gelampir leher sapi. Sebagian liuk batang terlihat tampak keropos. Aging yang alamiah. tepatlah ungkapan... jika saja pohon ini bisa bicara, kita bakal menuai kisah tentang alih peradapan. Lembar sejarah perubahan kehidupan periodik lalu yang direkam langsung oleh saksi bisu, si Giant-Tree. Selidik lain terungkap bahwa sebenarnya dibelahan Lombok selatan. Sekitar Sekotong juga pernah ditemui pohon sama. Hanya masyarakat disana menyebut dengan julukan pohon Ngili.
Kembali fokus madu. Ada komunitas lebah menempati 1 pohon.. itu-itu saja. Tehnik panjat kali ini agak beda. Para pemetik cukup andalkan godam kayu dan pasak bambu. Satu per-satu pasak di benamkan di tubuh pohon mengarah tepat sarang. Gak perlu bekal paku. Lantaran sifat kayu Lian bukan berupa tipe kayu keras. Serat kambium-nya halus...cenderung formasi sinergi ikatan partikel bubuk. Jadi mudah ditengarai bukan ideal untuk bahan kayu olahan furniture.
Lebah penghuni jenis Apis dorsata. Di-ukur kasat mata telanjang kisar kandungan muatan madu sekitar 12 botol. Atau kisaran liquid 7,5 liter. Maklum hanya koloni tunggal. Liputan kali ini gak bisa tuntas. Faktor alam lebih akibat kantung mendung. Bahkan kami telah diguyur mendung sejak masuk Pringgabaya. Proses panjat bakal beresiko slip.. licin! Nah klo faktor manusia-nya gak mungkin andalkan 2 profil manula yang antar kami ke lokasi ini. Pasukan climber 'muda' belum pada nongol datang dari Mataram. Akhirnya saya kumpulkan sekedar dokumentasi dan rekaman data secukupnya. Batal dah! eksekusi ekspresi penuh bumbu adrenalin. Next time will be better....,

Lian ah Lian! spot wisata yang bikin saya senantiasa terkekeh. Teingat lagi aktivitas guiding dasawarsa lalu. Tentang mitos yang gemilang saya rekayasa demi bumbu inovasi ber-seni tutur. Berseberangan lahan pesisir dan kompleks Lian sangat manjur diunggah kisah perihal benih-benih pepohonan yang ditanam Nabi Nuh. Basis teori Bahtera Nuh yang kemudian berkembang alibi polinasi benih via banjir, nyasar ke Lombok. Ini pohon apa tuan?... Owh, this is noah's tree...dan mengalir bla-bla-bla berikutnya. Padahal semata tak-tik antisipatif gengsi... gambrah-gambrah... ngakali turis. Masalah sederhana, saya gak mau berlabel " I don't Know". hehehe.........,

onok LIANe mneh?
*postingan Facebook 





 












Melacak jejak... memburu rambu...,

Tumpukan batu ini sengaja dibuat oleh para pemburu, masyarakat perambah
hasil hutan. Sebagai patokan alur yang harus dilalui, biar gak tersesat. Ada juga
yang meninggalkan petunjuk arah dengan meninggalkan tanda warna Cat.
Ada pembelajaran unik dalam silabus perburuan madu. Survival dasar akan terpola dengan sendiri-nya. Adaptasi lingkungan... berguru pada alam. Tanda dan jejak bisa tanda alamiah... ataupun rambu ikonik yang sengaja di bikin para pemetik madu belantara. Tumpukan batu mengarahkan pada alur tempuh.. sementara noktah/bercak warna kuning di bebatuan adalah nektar bunga, yg kadang tumpah dari kantung perut, penyimpan khusus yang ada pada bagian lebah. Bercak itu sebagai indikasi mudah, bahwa tak jauh dari lokasi itu terdapat sarang.
noktah bee-poolen lebah.
Semakin banyak bercak.. semakin menunjukkan peluang bakal ditemui multi sarang dari beda koloni/masyarakat lebah. Sedang pada lokasi sarang, paska survey awal, para pemetik akan meninggalkan tanda sementara. Bisa dari sekedar potongan ranting... sebagai pesan singkat. Don't Disturb...this point has been claimed! sarang madu sekitar ini sudah ada tim yang bakal petik.

 
Next, ada lagi skill tingkat advance. Yaitu kemampuan daya endus dan identifikasi jenis bunga (pohon hutan) apa saja yang telah didatangi para lebah pekerja. Dan swear, menguasai ilmu ini syangiattt syuliiiiiiit sekaleeeeee......, 
Bagi saya, skill seperti ini mestinya, or lebih layak di miliki oleh sebagian profesi botanist. Semacam kemampuan yang dimiliki Grader, dilingkup usaha bisnis tembakau. Menentukan kadar kualitas dengan mengandalkan daya endus konvensional. Dan bisa jadi oknum macam ini memang memiliki perangkat sinyal feromon level atas dibanding kemampuan manusia umumnya. Pelajaran seperti ini mestinya telah banyak di ajarkan secara turun-temurum dikalangan suku pedalaman. Sebagai konsekuensi imbal-balik ketergantungan dan efek kenal habitat lebih dekat. Mengacu pula pada pola kehidupan suku indian, dibenua amrik. Bahwa nilai kearifan lokal sejak dini telah ditanamkan. Bahkan sebagaimana di ketahui dalam proses pemberian nama saja, suku Indian selalu mengaitkan dengan gelagat alam yang terjadi saat orok lahir. 
 
Bila di tunjang perangkat tehnologi dan aplikasi-nya, mestinya urusan melacak keragaman muasal nektar bunga yang dikumpulkan oleh para pekerja bisa mudah dilakukan. Dan madu hutan yang dikatakan sebagai madu multi-flora bisa di-sensus. Berasal dari bunga apa saja... Seberapa jauh daya jangkau terbang dari pola spot searching..., selanjutnya  menentukan di titik geografis lansekap mana saja yang mereka datangi. Vegetasi dominan apa... Ah! rasa-nya pekerjaan macam ini bakal menyenangkan. 
Tehnologi remote sensing adalah jawabannya. di sinergikan dengan transmitter khusus, setelah sebelumnya membekali beberapa specimen "Lebah pekerja percobaan"  dengan penyertaan chip super-mungil yang diikat di bagian tubuh mereka. Sinyal bekerja.... selanjutnya tinggal sinkronisasi pemantauan deteksi gerak dilayar monitor. Remote sensing dan sub-aplikasi di rana pemetaan. Next, setelah di plotting zona area, dilakukan kroscek ulang visual sensus. Dan boleh berandai-andai, ngayal dikit... semoga satu kesempatan yang hadir dan saya turut dalam ekspedisi macam ini. hehehe.....,

Kembali fitrah apa ada-nya,
Cukuplah sebagai awal... jika mengijinkan, semoga daya endus saya bekerja optimal. Bekerja berdasar naluri... dan angin serta-merta mengirimkan aromatik bunga dan sekar. Amin... akhiru kalam.
 
 

Disaat musim kemarau jejak noktah bee pollen yang berasal dari serbuk sari bunga akan sangat banyak ditemui sekitar lembah dimana lokasi sarang berada. Tapi akan sering cepat pudar jika masuki musim penghujan. Terhapus oleh rinai, bahkan oleh sekedar lelehan embun, penetrasi tingkat lembap dari bawaan halimun. Sebagaimana disebutkan... kategori hutan adalah bila mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan setempat yang khas. Berbeda dengan daerah diluarnya. Hal ini mengungkapkan secara gamblang perihal tabiat dan habitat para lebah pekerja ber-aktivitas. Melaksanakan titah Tuhan-nya. Mencari unsur pakan dari aneka tumbuhan sekaligus melakukan tugas mulia, berupa aksi penyerbukan. tidak saja bagi tumbuhan pokok di hutan namun juga di beberapa lingkup vegetasi, di ekosistem yang berbeda.  
menandai lokasi yang akan di panen, Biasanya para pemburu akan meningggalkan jejak, seandainya pada hari itu mereka tidak bisa turun. Atau masih dalam rangka monitoring. Bahwa beberapa hari kedepan mereka akan kembali lagi ke lokasi itu untuk aktivitas panen.
 

Tuesday, May 6, 2014

cerita foto (2)

Honey Hunter (3)

Rabu malam 26 November 2013 : menjadi momen puncak perburuan Madu. Paska semua bahan peralatan tiba puncak. Semua personil turun di bivak dasar lembah. Santap lekas masakan hangat. Nasi tanak dan batang muda pohon enau. Kuah menggiurkan. Sambel sudah ludes! Lewat maghrib bergegas naik teras tebing. Hanya 2 rekan tugas utama yg bekerja di puncak tebing. Dingin merayap...kami sebagai tenaga 'back-up' hanya menunggu di teras tebing. Malam gelap menambah keindahan Ngarai. Dengung satwa serasa pub-music nan alami. Berhias kelap-kelip pantat para kunang-kunang. Kami terpengkur dalam bungkam masing-masing. Penat.. dikuras lelah aktivitas sejak masa terang tadi. Beberapa rekan tertidur. Maklum hawa atap Rinjani mulai turun memenuhi kolong lembah. Dingiiiin...., Memaksa kami saling merapat badan. Berusaha menularkan panas tubuh satu-sama lain. Tebal jaket terasa belum sempurna bungkus kujur diri. Memanfaatkan jeda waktu, tidur menjadi kepuasan tersendiri. Bahkan karung menjadi selimut andalan, demi menumpas dingin yang menjalar semena-mena. Mengatasi bosan, saya kadang tegur rekan lain. Pastikan masih ada yang terjaga. Bukan kenapa, kesadaran saya sedikit di gayut was-was akan intaian bahaya Hipotermia. Tapi seperti biasa, berada di habitat alam terbuka, selalu hadirkan sajian visualitas yang sensual. Dan ini menjadi pengalih... alasan utama kenapa saya rela bergabung di petualangan kali ini. Mountain view....  remang... gelap.. keindahan apa lagi yang mampu dipungkiri?
Saya-pun meredam kagum tak henti. Sambil sesekali sedut plintiran 'mako' (tembakau) virginia, khas Lombok. Senter hanya boleh sesekali kedip.. demi hindari serangan berantai para patroli lebah.
Malam kian redup... justru makin hidup. Terlebih anak tangga sudah turun merapat di tepi ove-hung di poin sarang. 2 pekerja utama beraksi. Kantuk kami hilang, shift kembali kerja. Teras kami bernaung menjadi tempat lokasi serah-terima irisan sarang dari ceruk tebing. Sulitnya kondisi dan metode petik, serta porsi lelah makin menambah tekanan kerja. Sekalipun masih bisa di baur canda-tawa. Akhirnya 2 sarang lebah terdekat yang bisa di panen. Itupun makan waktu hampir 2 jam, usai pemasangan alur tali dan tangga. Mendadak bulan nongol menerangi lembah. Ketegangan lain muncul. Lebah yang tadinya mengejar jatuhan bara dan halau kepul asap, mulai menyadari siapa pengusik utama mereka. Berbalik menyerang 2 pekerja utama. Pekerjaan di hentikan!
Bertemu di teras tebing utama. Sejurus kemudian, kami semua gegas luncur turun dasar lembah. Alasan demi menghindari lebah mengendus keberadaan sarang yang telah kami santroni. Tak terbayangkan baur perasaan. Was-was... tapi campur cekikik geli. Di saat situasi genting..meski tergesa-gesa, Kami bergerak lincah..tapi waspada. Bergerak bak pendekar turun gunung.. dengan mengerahkan jurus ringan tubuh.  Tiba bivak, kami segera membesarkan bara unggun. Mengirim kepul asap tebal...tujuan mengacaukan indera penciuman lebah pekerja. Dan ini sudah menjadi SOP umum.
Makan lagi.. di jatah waktu dini hari. Bagaimanapun tenaga kami memang terforsir. Kemudian berangsur kami senyap oleh kantuk yang dalam. Lagi-lagi, merapat tubuh. Persis tatanan ikan pindang. Bertajuk kanopi.. dan juga beralas terpal. Berselimut karung...sebagian memanfaatkan kain spanduk. Lepas jiwa ke haribaan... menyatu bumi.
*copas postingan FB  


Pagi mulai menyusup dasar lembah... kami telah tunai sholat subuh sejak tadi. Melawan dingin dan sisa kantuk 'shift' begadang semalam. Bumbung asap dapur mengepul tanda aktivitas pagi dimulai. Menyatu embun dan lembap halimun. Benang cahaya menyusup di sela rongga rerimbun tajuk.

2 rekan mulai gesit menyiapkan sarapan. tanak nasi... kuah batang nira muda, dan kaldu Royco dicampur oseng cabe dan duo-bawang. Kali ini tanpa menu tambahan lain. Ikan asin ludes...., Dan lihat! ukuran piring kami gak main" besarnya :) Memanfaatkan tutup  wadah ember!

Selanjutnya mulai memerah sarang lebah hasil panen semalam. Dua sarang ukuran sedang. Lumayanlah sebagai awal pekerjaan...

Iris... belah... getah coklat yang menggiurkan!

Perah!... peras... keremes... genggam...

Agenda selanjutnya, hanya saya dan amak Murdi yang pulang menuju desa Dasan Tinggi. Madu perahan sudah terkumpul sekitar 10 liter-an. Selain tujuan memasok madu di lumbung storing unit di base-camp desa, tujuan lain adalah mengambil logistik tambahan dan bahan makanan lain. Saya sendiri kudu mesti balik Mataram. Ini sebagian rupa jalan... menyusup diantara batang pohon besar yang tumbang akibat angin.

Liku setapak bebatuan...,

memotong alur sungai seperti perjalanan awal kemarin...,


2 jam tengah perjalanan, kami ber-dua rehat sejenak. Himpun tenaga... sambil memasak mie. Jamu kunyit menjadi asupan stamina lain, terlebih langsung saya campur dengan madu baru. Adapun air minum bukanlah soal, Sambil jalan-pun bisa saya lakukan dengan tehnik gayung langsung di saat menyeberangi sungai... mudah, efektif. Segar luar biasa!
tiba di poin Blukus Puteq....,

nah, klo ini jelas"... tabiat Ilegal lodging...,

Kayu masih basah... warna kambium terang... aromatik kayu kuat, pertanda pohon ini baru saja dikerjakan dalam kurun dekat (2 or 3 hari lalu).. Biasa pula pengerjaan-nya dilakukan dengan cara di cicil.. Bisa jadi oleh perambah hutan. Maupun profesi sambilan lain. Melihat ukuran diameter yang besar... besar kemungkinan size seperti itu merupakan order khusus, untuk cikal bakal pembuatan dasar lunas perahu.

Keluar dari hutan, tibalah kami diatas huma dan ladangdi punggung bukit. Disini masih bagian wilayah desa Dasan Tinggi. Langit tampak medung... terlebih nun jauh di lokasi petik madu. Indikasi bahwa pekerjaan akan menyulitkan, hehehe.... hujan bukan waktu yang tepat untuk urusan panjat-memanjat. Hope the best moment........,

Friday, May 2, 2014

cerita foto (1)......,

Masih rangkaian dokumentasi kegiatan Reuni Rimba bulan November 2013 lalu. Hanya upaya memperkaya khazanah logistik visual blog. Demi menampilkan detil kegiatan alam bebas beserta aksi para pemetik madu hutan di habitat aslinya. Simpul mudah-nya, para pirsawan jagat maya bisa menikmati secara langsung. Paham cara kerja mereka. Tahu resiko pekerjaan para climber alami ini... Sekaligus ngeh, soalnya biar-pun sudah cukup banyak foto di blog ini saya cantukan. Kerap juga pertanyaan lumrah masih muncul, Apakah madu-nya asli? hehehe......., Ini dokumen pribadi... real-time...on the spot.
Okeh! silahkan cuci mata.............,

honey hunters (2)

Updated about 5 months ago
hari ke-2.. bangun subuh. semalaman di selimuti dingin kabut yang mengenangi ceruk lembah. Gelar sholat jama'ah di sajadah bebatuan. Sarapan... ngopi. Selanjutnya tiap oknum mulai bagi fungsi tugas. Wake-up... pagi mekar... waktu-nya para pendekar rimba singsing lengan baju!
* postingan Facebook

saya menyempatkan naik ke teras tebing... mencari porsi angle untuk leluasa memotret keberadaan sarang koloni lebah. Seperti biasa, posisinya agak over-hung. kisaran teras tebing dari dasar lembah sekitar 60 meter.

dan ini porsi view ketinggian yang di ambil dari teras tebing tempat kami nangkring

dari teras tebing, 2 rekan lain naik lagi ke level atas puncak tebing, sekedar memastikan alur panjat dan persiapan yang perlu di tangani untuk kelancaran tugas berikutnya.

kembali ke Bivak, personil yang paling senior di antara kami, Amaq Murdi, sedang meremukkan batangan kayu tanpa kambium. Vegetasi ini sejenis tanaman sirih hutan, tipe rambat.

selanjutnya suwiran kayu lunak tanpa kambium ini di himpun satuan genggam... lokal ujar menyebutnya 'bobok". Berfungsi sebagai penghimpun senjata asap.... sangat efektif menghasilkan kepul asap karena sifat-nya menyerupai serabut kelapa. Bisa jadi, bagi para lebah inilah senjata gas air mata....


Amag Murdi, ambil alih tugas lain. Dia memimpin beberapa pemuda untuk ikut mengambil lonjoran bambu. Lokasinya cukup jauh dari bivak. Pulang-pergi makan waktu 1 jam. Memanggul rentang bambu cukup menguras tenaga.. naik turun liku setapak, ditambah hujan. Jadi cocok klo yang diajak para belia tadi.

sementara itu, Zoel melanjutkan tugas pilah serabut kayu lunak. Sekalian memanggang di atas bara unggun untuk mengeringkan akibat kadar air dan kelembaban. Senjata asap gantung ini harus siap pada momentum aksi panen saat gelap nanti.

Bambu telah terkumpul. Tanpa jeda rehat... pasukan inti mulai melanjutkan bekerja. Bikin tangga untuk memudahkan prosesi petik madu. Cara efektifnya. ujung tangga di-ikat tali pandu... selanjutnya di ulur mendekati posisi over-hung tebing. Bagian bawah tangga di biarkan tergantung.... persis di ujung lidah jorok tebing. Dokumentasi momen ini sangat sulit saya lakukan. Proseduralnya rumit. Pertama, sebab dilakukan saat gelap malam. Kamera low-entry gak dilengkapi backing flash memadai. Ke-2, bahkan hanya sekedar senter hanya boleh dinyalakan dalam hitungan kejap... menghindari patroli lebah terusik dan menyerang kami. Bisa runyam! jadi Flash-light menyalak di kegelapan sama saja dengan mengundang lebah serbu sumber cahaya.

mengukur jarak... gergaji potong... bikin lubang untuk susup pijakan anak tangga

Tangga mulai terbentuk, dengan tali rafia tiap simpul anak tangga di rangkai balut ikatan. Sekedar memastikan kekuatan kondisi tangga. Ini sebetulnya lebih mengarah pada prosedur safety tools.

Haerani, pemuda tangguh ini adalah si pemetik handal. Dia termasuk personil tetap yang sering ikut dalam ekspedisi panen madu. Dengan cekatan mulai merangkai pengait khusus. Menggunakan potongan cabang kayu dan dirangkai pada lonjor bayu seukuran genggam ideal. Pengikat-nya memakai uraian utas tali alami dari rotan.

 
lalu menyiapkan alat lain. Berupa alat penampung khusus yang akan menangkap potongan sarang lebah. Lingkaran utama dibikin dari bahan rotan. Bambu di belah dan bulatan rotan di sisipkan diujung.

Selanjutnya, ini pekerjaan yang cukup melelahkan... kuras tenaga...perah cucuran keringat. Menaikkan anak tangga dan lonjoran bambu lain menuju puncak tebing. Susah payah memang.... tapi nikmat menantang adrenalin. Kami memposisikan diri di titik pijak tertentu. Saling oper lonjor bambu... namun untuk posisi yang tidak memungkinkan kudu diseret dengan sepenuh hati. Meskipun secara lahir-nya kami tampak seperti pekerja rodi... ngeh-ngeh... di cambuk oleh hasrat memacu untuk sukses meraih puncak. Ah! high-lander.........,

yang menyulitkan.... kemiringan lembah ini antara75-80 derajat.

Puih! begitu sampai teras tebing pertama rasanya lega. Dipoin ini kami mulai mendapat instruksi tambahan. Jangan berisik... apalagi gaduh bikin teriakan manipulasi komunikasi. Patroli lebah mulai tampak seliweran... sekali antup meninggalkan spot bengkak di kulit.. itu sama saj dengan meninggalkan jejak penciuman bagi lebah lain untuk datang menyerang. Beware.... stinging like a Bee... Fly like Butterfly

Selanjutnya, membawa lagi bekal bambu menuju puncak atas. Jalur pendakian sedikit ekstrim... tapi sudah disiasati dengan memasang tali pandu sesuai alur panjat. Saya memutuskan untuk diam di poin teras. Riskan manjat dengan bawa DLSR yang gak tangguh di situasi outdoor begini. Selain itu hujan mulai turun... gak deras, tapi lebih pengejahwantahan dari gumpalan kabut yang memboyong partikel kondensasi air.

Monday, February 17, 2014

prilaku ANEH konsumen madu

Perihal "ANEH" yg umum terjadi di kalangan konsumen Madu...,

* acap kali ada saja dialog basi dan kebiasaan nyeleneh. Saking banyaknya beredar madu palsu/oplosan. kadang ulah konsumen jadi berubah bebal. Sekalinya dapet madu asli...mereka lebih fokus pada ke-BANGGA-an menyimpan "madu" asli. lengkap dalil... cairan gak berubah pola campuran... gak dirubung semut lah!... gak beku di freezer lah! dan bla-bla-bla serba BLEHEK lain-nya. Ujung"nya ntar bs jd bahan cerita pada relasi dan tetangga... ni sy punya barang asli. Sambil bs unjuk contoh barang sesendok cicip... dan ungging bangga yang nurut sy justru timbul penyakit riya'... kans menciptakan'ila'... sekaligus watak ujub. Madu bakal jadi penghuni abadi di pojok kabin kulkas. Di sayang" untuk di ganyang berkelanjutan. Bahkan bilang bisa bertahan 1 tahun lebih di lambung Kulkas. So what?????

Tabiat itu sering saya tanya. Buat apa nyimpen lama"? Knapa gak di konsumsi selayaknya dalil Qurani yang menfatwakan bahwa madu merupakan Obat yang menjanjikan daya penyembuh mumpuni untuk berbagai penyakit. Relevansi kajian Thibbun Nabawi.

Kebanyakkan jawaban-nya selalu ngelantur. Mengalihkan pembicaraan... dan dalil, ntar bs jadi obat bagi tetangga yg memerlukan. Gilir sy cecar berikutnya, memangnya berapa porsi?... dosis pengobatan itu gak cukup 1 sendok!

Entah malu...gengsi atau tetap gak mudeng. Penutup pamungkas-nya saya bakal umbar kisah biota. Tentang daur siklus hidup para Larva-Lebah. Daur perubahan dari larva-menjadi lebah sejati (tipe pekerja) gak makan kurun waktu lama. Cuma 21 HARI , dengan rincian : fase telur 3 hari - fase larva 6 hari - fase Pupa 12 hari. Kesimpulannya : stok madu di sarang... telah dipersiapkan untuk masa pengkonsumsian yang singkat. Dalam arti lain, mengkonsumsi madu sebaiknya dilakukan rutin dan ludes dalam kurun penyimpanan masa ideal. Bukan berleha-leha... bernasib mangkrak di kulkas dan justru melahirkan sustainable-myth...., mitos berkelanjutan.

Padahal dii penutup ayat an-Nahl 69 (***) gamblang bilang gini.."Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.

Jadi, berdayakan otak-mu... Berpikirlah dengan telaah mudah. gampang meresap dan nyantol di benak.


Salam "lestari"... sebaik-baik LESTARI 


***Surah An Nahl ayat 68-69 tertulis: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.
Photo: Perihal "ANEH" yg umum terjadi di kalangan konsumen Madu...,
* acap kali ada saja dialog basi dan kebiasaan nyeleneh. Saking banyaknya beredar madu palsu/oplosan. kadang ulah konsumen jadi berubah bebal. Sekalinya dapet madu asli...mereka lebih fokus pada ke-BANGGA-an menyimpan "madu" asli. lengkap dalil... cairan gak berubah pola campuran... gak dirubung semut lah!... gak beku di freezer lah! dan bla-bla-bla serba BLEHEK lain-nya. Ujung"nya ntar bs jd bahan cerita pada relasi dan tetangga... ni sy punya barang asli. Sambil bs unjuk contoh barang sesendok cicip... dan ungging bangga yang nurut sy justru timbul penyakit riya'... kans menciptakan'ila'... sekaligus watak ujub. Madu bakal jadi penghuni abadi di pojok kabin kulkas. Di sayang" untuk di ganyang berkelanjutan. Bahkan bilang bisa bertahan 1 tahun lebih di lambung Kulkas. So  what?????
Tabiat itu sering saya tanya. Buat apa nyimpen lama"? Knapa gak di konsumsi selayaknya dalil Qurani yang menfatwakan bahwa madu merupakan Obat yang menjanjikan daya penyembuh mumpuni untuk berbagai penyakit. Relevansi kajian Thibbun Nabawi.
Kebanyakkan jawaban-nya selalu ngelantur. Mengalihkan pembicaraan... dan dalil, ntar bs jadi obat bagi tetangga yg memerlukan. Gilir sy cecar berikutnya, memangnya berapa porsi?... dosis pengobatan itu gak cukup 1 sendok! :)
Entah malu...gengsi atau tetap gak mudeng. Penutup pamungkas-nya saya bakal umbar kisah biota. Tentang daur siklus hidup para Larva-Lebah. Daur perubahan dari larva-menjadi lebah sejati (tipe pekerja) gak makan kurun waktu lama. Cuma 21 HARI , dengan rincian : fase telur 3 hari - fase larva 6 hari - fase Pupa 12 hari. Kesimpulannya : stok madu di sarang... telah dipersiapkan untuk masa pengkonsumsian yang singkat. Dalam arti lain, mengkonsumsi madu sebaiknya dilakukan rutin dan ludes dalam kurun penyimpanan masa ideal. Bukan berleha-leha... bernasib mangkrak di kulkas dan justru melahirkan sustainable-myth...., mitos berkelanjutan. 
Padahal dii penutup ayat an-Nahl 69 (***) gamblang bilang gini.."Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir. 
Jadi, berdayakan otak-mu... Berpikirlah dengan telaah mudah. gampang meresap dan nyantol di benak.  

Salam "lestari"... sebaik-baik LESTARI 

***Surah An Nahl ayat 68-69 tertulis: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.

Tuesday, December 3, 2013

Reuni Rimba 2013

Trangia... the every-where, official partner
Pekan akhir November...,
Mendadak ada ajakan dari beberapa rekan para pemburu madu. Seperti biasa, kawasan berada di sekitar hutan kaki gunung Rinjani. Bukan main antusias saya sambut tawaran gabung di momen kali ini. Bukan tanpa sebab. Soalnya, lokasi yang bakal kami kunjungi adalah zona favorit yang selama ini saya idamkan. Bahkan sudah hampir 4 tahun silam pernah di agendakan anjang-sana. Batal, sebab sesuatu dan lain hal. Terlalu jauh lah..., yahana-yahanu! Butuh persiapan matang. Banyak ragu-ragu. Ndilalah, bahkan pernah terakhir kali survey pra-panen ternyata sarang para lebah sedang kosong. Gigit jari.. tapi itu sudah bagian suka-duka perburuan.
Dinding tebing pola leleh dan rembesan warna Putih
Nama tempatnya Blukus Puteq. Ada banyak versi menurut penafsiran lokal. Blukus dinamai pembungkus. Puteq berarti warna putih. Sebagian warga pemukim terdekat lebih memaknai istilah itu karena berkaitan dengan pesona warna air sungai yang mengalir deras. Menciptakan alur jeram eksotis dan berwarna putih. Sungai ini menjadi alur air utama yang mendukung sistim irigasi alami di zona bawah. Tepatnya di wilayah Desa Sambelia. Dan tentunya ber-hulu muasal alur ketinggian ceruk-ceruk lembah Rinjani. While, inisial lain sungai ini disebut dengan nama "Otak Reban".
Lebih kesan seram, Blukus-Puteq bisa diartikan oleh sebagian orang sebagai pembungkus kafan. Merujuk selimut jenazah atawa mayat. Memang secara frasa harfiah bahasa sasak bisa pula sebut begitu. Ikon identik ini justru saya ngeh! sejenak setelah mengamati salah satu sudut dinding tebing dalam trip kami menyusuri sungai. Tebing batu itu membentuk sudut 90 derajat. Legam coklat berhias cokol tanaman tipe hidrofit. Sisi unik-nya ada pada lelehan warna putih. Sangat kontras dengan nuansa coklat. Dan jika terminologi kafan tadi berasal dari fenomena alamiah itu. Saya justru setuju dengan pandangan terakhir. Hehehe..., 'kafan' itu tidak melambai... tapi tertoreh indah. Semacam noktah tembok kusam yang dilumuri chlorine

Menuju lokasi sarang lebah di Blukus-Puteq terbilang sulit. Terlebih saat masuki musim hujan. Faktor jarak dan kondisi medan tempuh. Total makan waktu 4 jam terhitung start awal dari mulut desa terakhir. Dasan Tinggi, yang menjadi bagian wilayah kecamatan Sambelia. Meliuk alur stoney-river menjadi suguhan pertama kali. Ditampung di embung, lalu dialirkan pada parit besar, di distribusikan sebagai lintas irigasi persawahan di ground level rendah dibawah sana. Air gunung bersih dan segar ini sekaligus dimanfaatkan pihak PDAM lokal sebagai tabungan air alami-nya. Selanjutnya silahkan simak alur perjalanan di segmen foto terlampir...., 



25 November 2013 : bangun lebih dini.. masih jauh subuh. Meluncur dari Mataram dengan iringan 4 motor. Dingin.. sekaligus menantang terpaan benang matahari hangat. Di sektor Anjani saya hinggap sejenak. Mengamati rekah pagi disekitar pondok Nadhatul Wathan (NW)..seliweran para santri. Tampak puncak Rinjani bertajuk mendung kental. Indikasi mudah bahwa lokasi petik madu bakal diwarnai dingin dan hujan. Ah... maju terus!
Tiba dusun Lian tim Mataram bergabung dengan rekan lain. Total jumlah kami ber-10. Kemas bekal dan alat. Belanja logistik di pasar Sambelia. Well done! tepat di mulut Dasan Tinggi..petualangan ini dimulai. Dan saya-pun mulai merapal lirik John Denver, you feel up my senses....,
* pengantar wacana ringkas di postingan Facebook.


 

persiapan  bekal, peralatan & logistik... nun jauh dari lokasi

alur setapak dusun terakhir, gerbang menuju lokasi perburuan madu

Lansekap sungai Otak Reban, bebatuan, dengan debit air kecil akibat telah di pasung Embung

saatnya memilah bekal... di punggung bukit perdana

kayu dipersiapkan sebagai alat bantu panggul

setapak lembah... dan senyum ceria pasukan pemburu madu

Iringan kami membelah ladang dan huma penduduk

Maju terus.. pantang ngadat, terik sebentar lagi panggang kepala

Ladang penduduk dan aktivitas pembersihan lahan...

nanjak lagi.... point hilbernate -tree

tiba setapak di puncak bukit terakhir.........,

rehat lagi lepas lelah 1/2 jam... gubuk itu menjadi lokasi ideal.

turunan awal memasuki pintu Hutan... lebih menjanjikan sejuk alami

sekitar 1 jam perjalanan dari bukit terakhir... akhirnya temui alur sungai



air bening..menawarkan sejuk, lepas dahaga dan membasuh peluh
saya mulai menuai kekaguman bertubi-tubi.... alur kami mulai memotong jalur sungai

cukup kuras tenaga... hanya rasa penasaran yang bikin tetap semangat

ceruk lembah dan tebing vertikal... sungai dangkal, perpaduan indah

bagi saya disinilah point of interest dari sekelumit perjalanan ini

posisi alur setapak sulit....licin membelah gundukan cadas besar