Friday, May 2, 2014

cerita foto (1)......,

Masih rangkaian dokumentasi kegiatan Reuni Rimba bulan November 2013 lalu. Hanya upaya memperkaya khazanah logistik visual blog. Demi menampilkan detil kegiatan alam bebas beserta aksi para pemetik madu hutan di habitat aslinya. Simpul mudah-nya, para pirsawan jagat maya bisa menikmati secara langsung. Paham cara kerja mereka. Tahu resiko pekerjaan para climber alami ini... Sekaligus ngeh, soalnya biar-pun sudah cukup banyak foto di blog ini saya cantukan. Kerap juga pertanyaan lumrah masih muncul, Apakah madu-nya asli? hehehe......., Ini dokumen pribadi... real-time...on the spot.
Okeh! silahkan cuci mata.............,

honey hunters (2)

Updated about 5 months ago
hari ke-2.. bangun subuh. semalaman di selimuti dingin kabut yang mengenangi ceruk lembah. Gelar sholat jama'ah di sajadah bebatuan. Sarapan... ngopi. Selanjutnya tiap oknum mulai bagi fungsi tugas. Wake-up... pagi mekar... waktu-nya para pendekar rimba singsing lengan baju!
* postingan Facebook

saya menyempatkan naik ke teras tebing... mencari porsi angle untuk leluasa memotret keberadaan sarang koloni lebah. Seperti biasa, posisinya agak over-hung. kisaran teras tebing dari dasar lembah sekitar 60 meter.

dan ini porsi view ketinggian yang di ambil dari teras tebing tempat kami nangkring

dari teras tebing, 2 rekan lain naik lagi ke level atas puncak tebing, sekedar memastikan alur panjat dan persiapan yang perlu di tangani untuk kelancaran tugas berikutnya.

kembali ke Bivak, personil yang paling senior di antara kami, Amaq Murdi, sedang meremukkan batangan kayu tanpa kambium. Vegetasi ini sejenis tanaman sirih hutan, tipe rambat.

selanjutnya suwiran kayu lunak tanpa kambium ini di himpun satuan genggam... lokal ujar menyebutnya 'bobok". Berfungsi sebagai penghimpun senjata asap.... sangat efektif menghasilkan kepul asap karena sifat-nya menyerupai serabut kelapa. Bisa jadi, bagi para lebah inilah senjata gas air mata....


Amag Murdi, ambil alih tugas lain. Dia memimpin beberapa pemuda untuk ikut mengambil lonjoran bambu. Lokasinya cukup jauh dari bivak. Pulang-pergi makan waktu 1 jam. Memanggul rentang bambu cukup menguras tenaga.. naik turun liku setapak, ditambah hujan. Jadi cocok klo yang diajak para belia tadi.

sementara itu, Zoel melanjutkan tugas pilah serabut kayu lunak. Sekalian memanggang di atas bara unggun untuk mengeringkan akibat kadar air dan kelembaban. Senjata asap gantung ini harus siap pada momentum aksi panen saat gelap nanti.

Bambu telah terkumpul. Tanpa jeda rehat... pasukan inti mulai melanjutkan bekerja. Bikin tangga untuk memudahkan prosesi petik madu. Cara efektifnya. ujung tangga di-ikat tali pandu... selanjutnya di ulur mendekati posisi over-hung tebing. Bagian bawah tangga di biarkan tergantung.... persis di ujung lidah jorok tebing. Dokumentasi momen ini sangat sulit saya lakukan. Proseduralnya rumit. Pertama, sebab dilakukan saat gelap malam. Kamera low-entry gak dilengkapi backing flash memadai. Ke-2, bahkan hanya sekedar senter hanya boleh dinyalakan dalam hitungan kejap... menghindari patroli lebah terusik dan menyerang kami. Bisa runyam! jadi Flash-light menyalak di kegelapan sama saja dengan mengundang lebah serbu sumber cahaya.

mengukur jarak... gergaji potong... bikin lubang untuk susup pijakan anak tangga

Tangga mulai terbentuk, dengan tali rafia tiap simpul anak tangga di rangkai balut ikatan. Sekedar memastikan kekuatan kondisi tangga. Ini sebetulnya lebih mengarah pada prosedur safety tools.

Haerani, pemuda tangguh ini adalah si pemetik handal. Dia termasuk personil tetap yang sering ikut dalam ekspedisi panen madu. Dengan cekatan mulai merangkai pengait khusus. Menggunakan potongan cabang kayu dan dirangkai pada lonjor bayu seukuran genggam ideal. Pengikat-nya memakai uraian utas tali alami dari rotan.

 
lalu menyiapkan alat lain. Berupa alat penampung khusus yang akan menangkap potongan sarang lebah. Lingkaran utama dibikin dari bahan rotan. Bambu di belah dan bulatan rotan di sisipkan diujung.

Selanjutnya, ini pekerjaan yang cukup melelahkan... kuras tenaga...perah cucuran keringat. Menaikkan anak tangga dan lonjoran bambu lain menuju puncak tebing. Susah payah memang.... tapi nikmat menantang adrenalin. Kami memposisikan diri di titik pijak tertentu. Saling oper lonjor bambu... namun untuk posisi yang tidak memungkinkan kudu diseret dengan sepenuh hati. Meskipun secara lahir-nya kami tampak seperti pekerja rodi... ngeh-ngeh... di cambuk oleh hasrat memacu untuk sukses meraih puncak. Ah! high-lander.........,

yang menyulitkan.... kemiringan lembah ini antara75-80 derajat.

Puih! begitu sampai teras tebing pertama rasanya lega. Dipoin ini kami mulai mendapat instruksi tambahan. Jangan berisik... apalagi gaduh bikin teriakan, manipulasi komunikasi. Patroli lebah mulai tampak seliweran... sekali antup meninggalkan spot bengkak di kulit.. itu sama saja dengan meninggalkan jejak penciuman bagi lebah lain untuk datang menyerang. Beware.... stinging like a Bee... Fly like Butterfly

Selanjutnya, membawa lagi bekal bambu menuju puncak atas. Jalur pendakian sedikit ekstrim... tapi sudah disiasati dengan memasang tali pandu sesuai alur panjat. Saya memutuskan untuk diam di poin teras. Riskan manjat dengan bawa DLSR yang gak tangguh di situasi outdoor begini. Selain itu hujan mulai turun... gak deras, tapi lebih pengejahwantahan dari gumpalan kabut yang memboyong partikel kondensasi air.

Monday, February 17, 2014

prilaku ANEH konsumen madu

Perihal "ANEH" yg umum terjadi di kalangan konsumen Madu...,

* acap kali ada saja dialog basi dan kebiasaan nyeleneh. Saking banyaknya beredar madu palsu/oplosan. kadang ulah konsumen jadi berubah bebal. Sekalinya dapet madu asli...mereka lebih fokus pada ke-BANGGA-an menyimpan "madu" asli. lengkap dalil... cairan gak berubah pola campuran... gak dirubung semut lah!... gak beku di freezer lah! dan bla-bla-bla serba BLEHEK lain-nya. Ujung"nya ntar bs jd bahan cerita pada relasi dan tetangga... ni sy punya barang asli. Sambil bs unjuk contoh barang sesendok cicip... dan ungging bangga yang nurut sy justru timbul penyakit riya'... kans menciptakan'ila'... sekaligus watak ujub. Madu bakal jadi penghuni abadi di pojok kabin kulkas. Di sayang" untuk di ganyang berkelanjutan. Bahkan bilang bisa bertahan 1 tahun lebih di lambung Kulkas. So what?????

Tabiat itu sering saya tanya. Buat apa nyimpen lama"? Knapa gak di konsumsi selayaknya dalil Qurani yang menfatwakan bahwa madu merupakan Obat yang menjanjikan daya penyembuh mumpuni untuk berbagai penyakit. Relevansi kajian Thibbun Nabawi.

Kebanyakkan jawaban-nya selalu ngelantur. Mengalihkan pembicaraan... dan dalil, ntar bs jadi obat bagi tetangga yg memerlukan. Gilir sy cecar berikutnya, memangnya berapa porsi?... dosis pengobatan itu gak cukup 1 sendok!

Entah malu...gengsi atau tetap gak mudeng. Penutup pamungkas-nya saya bakal umbar kisah biota. Tentang daur siklus hidup para Larva-Lebah. Daur perubahan dari larva-menjadi lebah sejati (tipe pekerja) gak makan kurun waktu lama. Cuma 21 HARI , dengan rincian : fase telur 3 hari - fase larva 6 hari - fase Pupa 12 hari. Kesimpulannya : stok madu di sarang... telah dipersiapkan untuk masa pengkonsumsian yang singkat. Dalam arti lain, mengkonsumsi madu sebaiknya dilakukan rutin dan ludes dalam kurun penyimpanan masa ideal. Bukan berleha-leha... bernasib mangkrak di kulkas dan justru melahirkan sustainable-myth...., mitos berkelanjutan.

Padahal dii penutup ayat an-Nahl 69 (***) gamblang bilang gini.."Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.

Jadi, berdayakan otak-mu... Berpikirlah dengan telaah mudah. gampang meresap dan nyantol di benak.


Salam "lestari"... sebaik-baik LESTARI 


***Surah An Nahl ayat 68-69 tertulis: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.
Photo: Perihal "ANEH" yg umum terjadi di kalangan konsumen Madu...,
* acap kali ada saja dialog basi dan kebiasaan nyeleneh. Saking banyaknya beredar madu palsu/oplosan. kadang ulah konsumen jadi berubah bebal. Sekalinya dapet madu asli...mereka lebih fokus pada ke-BANGGA-an menyimpan "madu" asli. lengkap dalil... cairan gak berubah pola campuran... gak dirubung semut lah!... gak beku di freezer lah! dan bla-bla-bla serba BLEHEK lain-nya. Ujung"nya ntar bs jd bahan cerita pada relasi dan tetangga... ni sy punya barang asli. Sambil bs unjuk contoh barang sesendok cicip... dan ungging bangga yang nurut sy justru timbul penyakit riya'... kans menciptakan'ila'... sekaligus watak ujub. Madu bakal jadi penghuni abadi di pojok kabin kulkas. Di sayang" untuk di ganyang berkelanjutan. Bahkan bilang bisa bertahan 1 tahun lebih di lambung Kulkas. So  what?????
Tabiat itu sering saya tanya. Buat apa nyimpen lama"? Knapa gak di konsumsi selayaknya dalil Qurani yang menfatwakan bahwa madu merupakan Obat yang menjanjikan daya penyembuh mumpuni untuk berbagai penyakit. Relevansi kajian Thibbun Nabawi.
Kebanyakkan jawaban-nya selalu ngelantur. Mengalihkan pembicaraan... dan dalil, ntar bs jadi obat bagi tetangga yg memerlukan. Gilir sy cecar berikutnya, memangnya berapa porsi?... dosis pengobatan itu gak cukup 1 sendok! :)
Entah malu...gengsi atau tetap gak mudeng. Penutup pamungkas-nya saya bakal umbar kisah biota. Tentang daur siklus hidup para Larva-Lebah. Daur perubahan dari larva-menjadi lebah sejati (tipe pekerja) gak makan kurun waktu lama. Cuma 21 HARI , dengan rincian : fase telur 3 hari - fase larva 6 hari - fase Pupa 12 hari. Kesimpulannya : stok madu di sarang... telah dipersiapkan untuk masa pengkonsumsian yang singkat. Dalam arti lain, mengkonsumsi madu sebaiknya dilakukan rutin dan ludes dalam kurun penyimpanan masa ideal. Bukan berleha-leha... bernasib mangkrak di kulkas dan justru melahirkan sustainable-myth...., mitos berkelanjutan. 
Padahal dii penutup ayat an-Nahl 69 (***) gamblang bilang gini.."Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir. 
Jadi, berdayakan otak-mu... Berpikirlah dengan telaah mudah. gampang meresap dan nyantol di benak.  

Salam "lestari"... sebaik-baik LESTARI 

***Surah An Nahl ayat 68-69 tertulis: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.

Tuesday, December 3, 2013

Reuni Rimba 2013

Trangia... the every-where, official partner
Pekan akhir November...,
Mendadak ada ajakan dari beberapa rekan para pemburu madu. Seperti biasa, kawasan berada di sekitar hutan kaki gunung Rinjani. Bukan main antusias saya sambut tawaran gabung di momen kali ini. Bukan tanpa sebab. Soalnya, lokasi yang bakal kami kunjungi adalah zona favorit yang selama ini saya idamkan. Bahkan sudah hampir 4 tahun silam pernah di agendakan anjang-sana. Batal, sebab sesuatu dan lain hal. Terlalu jauh lah..., yahana-yahanu! Butuh persiapan matang. Banyak ragu-ragu. Ndilalah, bahkan pernah terakhir kali survey pra-panen ternyata sarang para lebah sedang kosong. Gigit jari.. tapi itu sudah bagian suka-duka perburuan.
Dinding tebing pola leleh dan rembesan warna Putih
Nama tempatnya Blukus Puteq. Ada banyak versi menurut penafsiran lokal. Blukus dinamai pembungkus. Puteq berarti warna putih. Sebagian warga pemukim terdekat lebih memaknai istilah itu karena berkaitan dengan pesona warna air sungai yang mengalir deras. Menciptakan alur jeram eksotis dan berwarna putih. Sungai ini menjadi alur air utama yang mendukung sistim irigasi alami di zona bawah. Tepatnya di wilayah Desa Sambelia. Dan tentunya ber-hulu muasal alur ketinggian ceruk-ceruk lembah Rinjani. While, inisial lain sungai ini disebut dengan nama "Otak Reban".
Lebih kesan seram, Blukus-Puteq bisa diartikan oleh sebagian orang sebagai pembungkus kafan. Merujuk selimut jenazah atawa mayat. Memang secara frasa harfiah bahasa sasak bisa pula sebut begitu. Ikon identik ini justru saya ngeh! sejenak setelah mengamati salah satu sudut dinding tebing dalam trip kami menyusuri sungai. Tebing batu itu membentuk sudut 90 derajat. Legam coklat berhias cokol tanaman tipe hidrofit. Sisi unik-nya ada pada lelehan warna putih. Sangat kontras dengan nuansa coklat. Dan jika terminologi kafan tadi berasal dari fenomena alamiah itu. Saya justru setuju dengan pandangan terakhir. Hehehe..., 'kafan' itu tidak melambai... tapi tertoreh indah. Semacam noktah tembok kusam yang dilumuri chlorine. 

Menuju lokasi sarang lebah di Blukus-Puteq terbilang sulit. Terlebih saat masuki musim hujan. Faktor jarak dan kondisi medan tempuh. Total makan waktu 4 jam terhitung start awal dari mulut desa terakhir. Dasan Tinggi, yang menjadi bagian wilayah kecamatan Sambelia. Meliuk alur stoney-river menjadi suguhan pertama kali. Ditampung di embung, lalu dialirkan pada parit besar, di distribusikan sebagai lintas irigasi persawahan di ground level rendah dibawah sana. Air gunung bersih dan segar ini sekaligus dimanfaatkan pihak PDAM lokal sebagai tabungan air alami-nya. Selanjutnya silahkan simak alur perjalanan di segmen foto terlampir...., 



25 November 2013 : bangun lebih dini.. masih jauh subuh. Meluncur dari Mataram dengan iringan 4 motor. Dingin.. sekaligus menantang terpaan benang matahari hangat. Di sektor Anjani saya hinggap sejenak. Mengamati rekah pagi disekitar pondok Nadhatul Wathan (NW)..seliweran para santri. Tampak puncak Rinjani bertajuk mendung kental. Indikasi mudah bahwa lokasi petik madu bakal diwarnai dingin dan hujan. Ah... maju terus!
Tiba dusun Lian tim Mataram bergabung dengan rekan lain. Total jumlah kami ber-10. Kemas bekal dan alat. Belanja logistik di pasar Sambelia. Well done! tepat di mulut Dasan Tinggi..petualangan ini dimulai. Dan saya-pun mulai merapal lirik John Denver, you feel up my senses....,
* pengantar wacana ringkas di postingan Facebook.


 

persiapan  bekal, peralatan & logistik... nun jauh dari lokasi

alur setapak dusun terakhir, gerbang menuju lokasi perburuan madu

Lansekap sungai Otak Reban, bebatuan, dengan debit air kecil akibat telah di pasung Embung

saatnya memilah bekal... di punggung bukit perdana

kayu dipersiapkan sebagai alat bantu panggul

setapak lembah... dan senyum ceria pasukan pemburu madu

Iringan kami membelah ladang dan huma penduduk

Maju terus.. pantang ngadat, terik sebentar lagi panggang kepala

Ladang penduduk dan aktivitas pembersihan lahan...

nanjak lagi.... point hilbernate -tree

tiba setapak di puncak bukit terakhir.........,

rehat lagi lepas lelah 1/2 jam... gubuk itu menjadi lokasi ideal.

turunan awal memasuki pintu Hutan... lebih menjanjikan sejuk alami

sekitar 1 jam perjalanan dari bukit terakhir... akhirnya temui alur sungai



air bening..menawarkan sejuk, lepas dahaga dan membasuh peluh
saya mulai menuai kekaguman bertubi-tubi.... alur kami mulai memotong jalur sungai

cukup kuras tenaga... hanya rasa penasaran yang bikin tetap semangat

ceruk lembah dan tebing vertikal... sungai dangkal, perpaduan indah

bagi saya disinilah point of interest dari sekelumit perjalanan ini

posisi alur setapak sulit....licin membelah gundukan cadas besar

Sunday, September 23, 2012

meniris MADU baru...,

Cerita dikit...., 
Tumben nambah asupan posting di blog getah-lebah. Wow, sudah cukup lama, saya gak lagi berkutat aksi avonturir di rana per"lebah"an. Sekalipun tentu tidak putus komunikasi dengan beberapa rekan yang tekuni perburuan madu di belantara kaki Rinjani. Maklumlah, alihan fokus kegiatan lain. Ini-itu... sana dan sini.
Hingga satu kesempatan tiba. Kira selang 2 minggu lalu. Ada keluarga sakit yang membutuhkan stok madu asli hutan untuk keperluan pengobatan diabetes. Bertepatan dengan jelang pergantian musim. Sedang masuk etape awal kemarau. Debit air yang mulai susut, adalah parameter termudah sebagai referensi awal.
Selain itu momen kemarau juga menandakan kualitas madu produksi hutan semakin bagus. Terkait dengan kadar air yang terlarut. Sebagaimana ulasan wacana madu umumnya. Paling tidak ini bisa sebagai input materi redaksional dunia lebah. Khususnya, madu multi flora atau yang dihasilkan oleh spesies Apis dorsata.

Kontakpun bersambut. Kebetulan ada 2 oknum pemburu yang baru turun gunung. Gak banyak kata meraka.  Hanya 'panen' sebongkah sarang kecil. Kisaran hanya 1 liter lebih sedikit jelasnya. Saya menyambut antusias. Asyiknya lagi, ini tipe sarang baru. Ada beberapa ciri yang mudah dikenali ;
  1. Warna sarang masih putih bersih. Termasuk pada bagian penutup formasi heksagonal. Biasanya oleh kalangan pemburu madu di juluki "masih ter-Segel" :)
  2. Belum terisi larva lebah. atau calon 'orok' lebah. Seperti diketahui kantung-kantung sarang yang menyimpan cairan madu merupakan cikal bakal stok asupan makanan bagi para larva.
  3. Aroma menyengat tajam, khas sekar belantara.
Paling tidak poin tadi (1 &2) adalah ciri fisik yang mudah di kenali visual, Kecuali poin 3, kudu mengandalkan indera penciuman. Bagi sesiapa yang sering bermain di kawasan rimba biasanya akan familiar dengan 'bau' itu. Begitu juga dengan propilis madu, yang dikenal sebagai bahan dis-infektan (anti bakteri),  zat pelindung alami seisi penghuni sarang. Khusus propilis dan bee-pollen pasti-nya cuma bisa di rasakan dengan indera perasa. Paska proses tiris, ataupun pemerasan. Sisa gumpalan sarang yang terkepal masih menyimpan kandungan 2 unsur tadi. Saya gak membuangnya, tapi menyimpan untuk sesekali kesempatan bisa di jadikan semacam manisan sarang lebah. Bukan di telan langsung, tetapi mengunyah dan menghisap sisa madu, propilis dan bee pollen sekaligus. Ada sensasi sedikit rasa asam dan kecut. 
Agak beda pada sarang yang lebih tua. Bee Pollen biasanya sudah membentuk semacam kepompong. dan berbulir halus kalo di kunyah. Karena memang berasal dari serbuk sari bunga yang terangkut secara sistimatik oleh kinerja lebah pekerja saat mengisap cairan sari bunga. 

Yah..., ntar bila ada kesempatan lagi. Semoga saya gak lupa. Menyempatkan diri untuk intens menggali info dan tentunya menyertakan lampiran dokumentasi, khusus untuk kajian Bee-Pollen.

Salam bagi pembaca....,










Wednesday, May 4, 2011

uji ke-ASLI-an MADU....,

sekedar tanggapi permintaan,
Beberapa pengunjung blog Getah-Lebah acap kali menanyakan bagaimana cara praktis menguji jenis madu yang asli. Dan kini saya coba sajikan beberapa langkah sederhana utk cara-cara konvensional. Metode ini bisa dilakukan untuk pengujian madu asli, baik hasil hutan maupun hasil budidaya. Cukup mudah... dan silahkan ikuti alur foto sesuai narasi..


siapkan air putih..madu dan piring

tuang sedikit madu di piring...,

selanjutnya tuang air diatas cairan madu tadi
secukupnya... hingga menggenangi larutan madu yg menempel di piring

secara perlahan goyangkan/ olengkan piring
hingga air membasuh cairan madu...

cermati perubahan pada larutan madu yang mulai bercampur dengan air
terutama pada sisa madu yang menempel di dasar piring

amati Lebih dekat (ZOOM by camera)
biasa pada madu asli akan meningggalkan jejak pola formasi tertentu,
kerap biasanya membentuk kotak-kotak, mendekati formasi segi6 (Heksagonal) persis menyerupai pola sarang sang Lebah

pola heksagonal yg dimaksud...

penampakan nyata pada bentuk sarang lebah...


NOTE :
Smoga cara sederhana ini bisa membantu untuk semua pihak, tentu saja masih ada cara mudah lain, sekedar upaya konvensional dan mengindentifikasi secara fisik. Jika berkenan baca posting Contoh Madu Alam ...ASPAL, (klik judul tadi). Artinya ini baru cara ala daya visual yang bisa kita berdayakan.
Untuk tahap lanjut, bisa beranjak pada indera perasa. Aroma madu asli hutan memiliki bau yang khas, agak "kuat" bau-nya terutama hasil panen saat musim kemarau. Bisa dimaklumi karena kandungan kadar air yang rendah dibanding hasil panen madu di musim penghujan. Aromatik Nektar wangi bunga menjadi lebih mudah di-endus hidung. Dan selanjutnya, indera pengecap (lidah), kadar keras madu hutan (honey multi-flora) terasa sangat tajam, sensasi hangat di tenggorokan dan juga dada.

Waspadai pula, kadang ada kemasan madu aspal yang juga memiliki efek letup, saat awal beli dan dibuka.. kadang larutan madu bisa meluap keluar. Seolah ini adalah tabiat normal madu asli yang memang mudah meletup saat alami proses fermentasi. Hal yang sangat riskan adalah "efek" itu bisa di rekayasa dengan menuang madu campuran dan saat di kemas, disertakan oksidan, semacam efek letup soda pada minuman kaleng.

Demikian, moga wacana ini bermanfaat.

Thursday, January 6, 2011

Aksi Tebing... BEE a-MAN!!!!

sisa dokumentasi..... residu opini,
aksi tebing.....seperti mengukir aksi wall FB. penuhi kantong angan dengan kisah perjalanan... avonturir. dingin ceruk lembah... dengung satwa, dan tarian eksotis para lebah..., harum kungkung rimba. beratap biru terpal...beralas kain spanduk. Hujan menawarkan ritual basah. Pagi berlapis embun dan halimun.

Hijau-ku... hijau-mu.... Hijau kita!!!










Friday, December 31, 2010

spasi WAKTU......,


adalah WAKTU yang ter-BAHARU-kan....
tidak sekedar pilihan FONT!

(Wal ASRI)